Review Sony A7s III

8.6

Salah satu kelebihan kamera mirrorless dengan sensor full-frame adalah kemampuannya merekam gambar di kondisi minim cahaya. Selain wajib memiliki sensor yang memiliki sensitivitas lebih terhadap cahaya, kamera ini juga dituntut untuk dapat merekam foto dan video dalam tingkat noise yang tinggi dengan noise yang rendah. Salah satu kamera yang telah dikenal pengguna amatir maupun profesional sebagai kamera jagoan dalam kondisi low-light adalah seri Sony A7S. Menggantikan Sony A7s II yang diluncurkan di tahun 2015, Sony kini resmi meluncurkan A7S III di penghujung tahun 2020. Selang waktu 5 tahun ini membuat Sony mampu memasukkan banyak peningkatan dan fitur baru ke dalam A7S III.

Berikut beberapa peningkatan yang dimilliki A7S III dibandingkan A7S II.

  • Baterai baru NP-FZ100 yang lebih tahan lama (500 jepretan) dibandingkan baterai NP-FW50 pada A7S II (310 jepretan)
  • Dukungan perekaman foto dalam format HEIF dengan ukuran file lebih kecil
  • ISO 40 – 409.600 dengan noise lebih rendah
  • Kamera Sony Alpha pertama dengan USB Power Delivery
  • Kamera full-frame Sony pertama dengan layar LCD yang bisa diputar keluar
  • Dukungan perekaman video 4K 120fps dan Full HD 240fps.
  • Dukungan perekaman video RAW 16-bit pada resolusi 4K 60fps (melalui HDMI A)
  • Perekaman video 10 bit 4:2:2 XAVC HS dengan codec H.265
  • Dua slot kartu memori yang mendukung SDXC, UHS-I/II dan CFexpress Type A
  • Continuous shooting 10fps, naik dari 5fps
  • OLED viewfinder yang tajam dan terang dengan pembesaran 0,90x.
  • Image stabilizer in-body hingga 5,5 stop
Dari sisi desain, Sony A7S Mark III tidak mengalami banyak perubahan. Ukuran bodinya termasuk cukup ringkas, dengan grip yang nyaman. Sony telah menyediakan tombol fisik dan kenop putar yang memadai untuk mengatur beragam fungsi kamera dengan cepat.

Tatanan menu dirombak untuk lebih memudahkan diakses dengan layar sentuh. Dengan menu baru ini, mengakses berbagai fungsi dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan menu yang lama. Ini penting agar pengguna tidak menghabiskan banyak waktu untuk mencari fungsi yang dibutuhkannya.

Kualitas foto Sony A7s III

Meneruskan tradisi A7s seri sebelumnya, A7s III mengandalkan kemampuan fotografi di kondisi minim cahaya. Hasilnya, foto malam hari memiliki saturasi warna yang terjaga dengan noise minimal, bahkan pada setting ISO yang tinggi. Ini merupakan hasil paduan apik sensor BSI CMOS 12 megapixel dengan prosesor BIONZ XR.

Kami juga merasakan peningkatan performa dan respons saat menggunakan kamera ini. Performa autofocus amat gegas, termasuk di kondisi minim cahaya. Akurasi penentuan fokus juga amat baik, termasuk saat mendeteksi mata subyek. Ini tentunya penting bagi fitur foto tanpa hentinya (continuous shooting) yang mencapai hingga 10 fps.

Untuk hasil foto JPEG di kondisi cahaya ideal, Sony A7s III mampu menghasilkan foto dengan saturasi warna yang enak di mata. Tidak terlalu matang berlebihan, dengan reproduksi warna merah dan hijau yang cukup alami.

Berikut hasil foto Sony A7s III yang dipasangkan dengan lensa Sony GM24-70 f/2.8, tanpa penyuntingan.

DSC09663

DSC09538 (1)

ISO 12800
DSC09541

ISO 51200
ISO 51200

Skin tone – indoor
DSC09534

ISO 4000 indoor
DSC09525

Kualitas video Sony A7s III

Peningkatan yang lebih signifikan Sony A7S Mark III dapat dilihat di sektor videografi. Perekaman video 4K 120fps mampu menghasilkan rekaman video yang halus dan tajam. Fitur ini juga masih jarang ditemukan di kamera mirrorless full-frame lainnya. Kami sempat menggunakannya untuk membuat video interview dan review produk gadget yang mampir di redaksi. Hasilnya amat memuaskan, bahkan dengan grading cepat yang tidak terlalu kompleks di Adobe Premiere.

Bahkan pilihan color gamut merupakan salah satu kekuatan Sony A7s III. Kamera ini telah mendukung S-Log3, S-Game3, Cine Gamut, serta HLG yang mendukung warna 10-bit. Ini menjadikannya salah satu kamera mirrorless dengan dukungan standar warna terlengkap saat ini.

Menentukan fokus pada subyek manusia juga amat mudah saat merekam video. ANda tinggal mengaktifkan Eye AF yang dapat melacak dan mengikuti subyek berdasarkan mata. Hasilnya cukup efektif dan memudahkan proses perekaman.

Berikut contoh hasil video Sony A7s III sesudah editing. Kondisi perekaman ada di dalam ruangan, tanpa bantuan lampu tambahan.

Selama merekam video 4K 30fps, suhu bodi A7s III tetap stabil. Hanya menghangat dan tidak sampai terlalu panas hingga kamera harus terhenti merekam. Daya tahan baterai cukup lumayan, mencapai 2 jam lebih untuk merekam video di dalam ruangan.

Sebagai catatan, Anda membutuhkan kartu SD yang cepat untuk memaksimalkan fitur-fitur Sony A7s III terutama saat hendak merekam video 4K atau memotret dalam format RAW.

Kamera mirrorless low-light terbaik

Sony A7s III merupakan contoh sempurna bagaimana sebuah produk teknologi tidak perlu diperbaharui setiap 1 atau 2 tahun. Dengan siklus update yang lebih panjang, kamera ini akan membuat pengguna A7s II merasa bahwa upgrade ke A7s III akan memberikan peningkatan yang terasa.
Meskipun amat impresif di berbagai kondisi cahaya, kelemahan A7S III bagi fotografer profesional terletak pada resolusi maksimumnya yang hanya 12 megapixel. Tapi untuk fotografer yang butuh foto resolusi tinggi, akan lebih cocok dengan Sony A7R IV. Jika kurang cepat, Sony juga punya A9 II dan Alpha 1.
Tapi bagi fotografer yang membutuhkan kamera dengan performa low-light dan kualitas rekaman video terbaik di kelasnya, Sony A7s III amat layak dipertimbangkan untuk dipilih.

Kelebihan Sony A7s III
+ Kualitas foto dan video di kondisi minim cahaya amat baik
+ Fitur rekaman video amat lengkap untuk sebuah kamera mirrorless
+ Noise rendah pada setting ISO tinggi di bawah 12800
+ Focus tracking amat baik, untuk foto dan video
+ Pilihan Log, HLG atau RAW untuk memudahkan grading
+ Dua pilihan jenis kartu memori
+ Image stabilizer efektif untuk hasil video yang stabil
+ Pengaturan fleksibel dengan paduan tombol fisik dan layar sentuh
+ Desain yang nyaman saat digunakan dalam waktu lama

Kekurangan Sony A7s III
– Resolusi hanya 12 megapixel, terlalu kecil bagi sebagian fotografer profesional
– Butuh memory card yang lebih mahal untuk perekaman cepat
– Harga premium bagi non profesional

Bagi fotografer profesional
Resolusi 12 megapixel memang cukup terbatas bagi sebagian fotografer profesional. Tapi jika resolusi itu sudah mencukupi, Sony A7s III amat direkomendasikan berkat kemampuan low-light, kualitas gambar dan kecepatannya saat memotret.

Bagi videografer profesional
Dengan beberapa tambahan aksesori, Sony A7s III akan bisa disulap menjadi kamera video yang handal untuk produksi video serius. Kualitas video pada kondisi minim cahaya dan kemudahan untuk color grading akan berguna bagi para videografer. Namun jika ada kebutuhan khusus, maka Sony juga memiliki FX3 yang memang lebih ditujukan bagi videografer.

Bagi Youtuber
Hasil video Sony A7s III jauh lebih dari memadai untuk keperluan video di YouTube. Jika Anda sudah memiliki lensa full frame Sony, maka berpindah ke A7s III hanya masalah ketersediaan dana saja.

Bagi Fotografer Pemula
Walaupun dipenuhi sederetan fitur yang canggih, Sony A7s III tetap mudah digunakan bagi fotografer yang baru belajar. Jika tidak ingin melakukan upgrade kamera terlalu sering, kamera ini jelas dapat bertahan hingga 5 tahun mendatang.

Review Sony A7s III
bagi fotografer yang membutuhkan kamera dengan performa low-light dan kualitas rekaman video terbaik di kelasnya, Sony A7s III amat layak dipertimbangkan untuk dipilih.
8.6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Desain
Fitur & Performa
Hasil Video
Hasil Foto
Harga
Final Score

Artikel lain