Review Sony Cybershot RX1

Evolusi kamera saku saat ini berkisar pada desain yang lebih tipis dan jangkauan lensa yang lebih panjang. Namun Sony mencoba menawarkan inovasi yang menyegarkan dengan Cybershot RX-1 yang mengusung sebuah konsep baru di dunia kamera digital. Sony Cybershot RX-1 adalah kamera saku pertama (dan masih satu-satunya) di dunia yang telah menggunakan sensor berukuran penuh atau full-frame.

Konsep dan desain
Jika dilihat dari ukuran bodinya, RX1 memang cukup besar tapi masih lebih kecil dibandingkan beberapa kamera prosumer yang mengandalkan lensa dengan jangkauan zoom panjang. Bodi dari bahan logam membuat bobotnya cukup berat, namun terasa lebih mantap dibandingkan kamera saku kebanyakan saat digunakan memotret. Penggunaan bahan logam ini juga sukses menaburkan aura eksklusif dan mewah saat Anda melihat dan menggunakannya. Desain grip atau genggaman yang agak rata ternyata tidak membuat tangan terpeleset atau kurang nyaman.

DSC-RX1_hand_Front_FocusModeDial

Di bagian belakang, tersedia layar TFT 3 inci resolusi tinggi (1,2 juta pixel) yang mendominasi beserta beberapa tombol yang jumlahnya cukup minim. Anda akan menemukan tombol putar di dekat shutter, tombol video di sisi kanan, serta tombol navigasi empat arah. Tiga dari empat tombol navigasi tersebut dapat Anda atur sesuai kebutuhan. Secara keseluruhan, penempatan tombol amat baik dan mudah dijangkau. Dengan berbagai tombol tersebut, Anda dapat mengatur cukup banyak fungsi tanpa harus terlalu banyak masuk ke menu.

Di bagian atas, terdapat kenop putar yang mengatur mode pemotretan dan satu kenop tambahan untuk mengatur exposure compensation. Ini adalah fitur yang amat berguna dan jarang ditemukan di kamera DSLR sekalipun. Selain itu, terdapat tombol C yang dapat diatur sebagai tombol pintas (shortcut) untuk fungsi tertentu seperti mengatur ISO dan sebagainya. Sony juga menyediakan tiga setting custom untuk mempercepat proses mengatur setting saat hendak menjepret. Anda bisa mengatur setting dari 27 fungsi di RX1 lalu menyimpannya di salah satu mode tersebut. Misalnya, Anda dapat mengatur Drive Mode, ISO, White Balance, dan setting lainnya, lalu menyimpannya sebagai satu dari tiga pengaturan khusus tersebut.

Pengaturan diafragma dan jarak fokus, serta mencari fokus secara manual langsung dilakukan dengan memutar bodi lensa. Mekanisme putar lensa saat mengubah setting ketiganya amat halus dan tidak mudah terputar secara tidak sengaja. Peralihan antara mode fokus otomatis dan manual juga dapat dilakukan di bagian bawah lensa. Ini jelas mempercepat saat saya sedang memotret mengingat kita tidak perlu menatap layar LCD dan mencari menu yang tepat untuk menaikkan aperture, misalnya.

Performa & Fitur
Sony RX1 menggunakan sensor berukuran penuh dengan resolusi 24 megapixel, sama seperti sensor Sony Alpha SLT-A99. Dipadukan dengan lensa Carl Zeiss Sonnar T* (T Star) 35mm f/2.0, RX1 mampu menghasilkan foto yang menakjubkan. Lensanya dapat menemukan fokus dengan senyap dan nyaris tanpa suara. Menemukan fokus cukup cepat, walaupun belum setara dengan kamera DSLR.

Pada setting f/2.0, bokeh (bagian background yang blur) pada hasil foto RX1 terlihat amat halus sambil tetap mempertahankan ketajaman di area yang difokuskan. Inilah bukti kualitas lensa Carl Zeiss yang digunakannya. Bahkan saya juga sempat mengambil beberapa foto makro yang memang sebenarnya kurang ideal untuk RX1. Dan ternyata hasilnya juga amat memuaskan, dengan detail yang terjaga walaupun jangkauan lensanya sebenarnya terlalu lebar untuk kebutuhan makro.

Performa ISO tinggi juga amat mengagumkan. Noise pada foto di setting ISO 100-1600 amat minim dan lebih baik dibandingkan DSLR APS-C. Sementara pada ISO 3200-6400, noise mulai sedikit terlihat tapi sama sekali tidak mengganggu. Di setting ISO yang ekstrem, 12800-25600, noise terlihat jelas dan mengurangi detail pada foto. Sony memasukkan satu fitur yang dapat mengurangi noise, yaitu Multi NR Auto. Dengan fitur ini, RX1 mengambil beberapa gambar yang lalu digabungkan menjadi satu gambar dengan tingkat noise lebih rendah.

Dengan performa ISO yang mantap, Anda dapat memotret di malam hari atau suasana remang-remang tanpa bantuan tripod. Jika diperlukan, Anda juga bisa memotret dalam format RAW yang dapat diproses lebih baik di komputer.

Berikut hasil foto RX1 langsung dari kamera, tanpa melalui proses penyuntingan. Untuk hasil foto lainnya, dapat dilihat di Flickr resmi Yangcanggih.com.

svg%3E

Sony RX1 slow shutter speedSony RX1 Multi NR ISO AutoSony RX1 behind glassSony RX1

Untuk fotografer pemula, Sony menyediakan berbagai fitur fotografi yang menyenangkan dan dapat membantu untuk menghasilkan foto hebat. Fitur-fitur tersebut antara lain adalah Auto HDR (High Dynamic Range), DRO (Dynamic Range Optimizer), Auto Portrait Framing, Creative Style, Picture Effect, dan dukungan perekaman video Full HD. Dari pengujian, fitur Auto HDR dan DRO cukup efektif untuk menghasilkan foto dengan dynamic range yang luas di kondisi cahaya yang menyulitkan. Dengan bereksperimen, Anda akan menemukan efek mana yang cocok bagi Anda. Jika masih kurang puas, Anda dapat memotret dalam format RAW dan menyuntingnya di komputer.

Sayangnya, tidak ada gadget yang sempurna. Baterai RX1 yang berukuran kecil hanya dapat digunakan untuk memotret sekitar 330 foto tanpa lampu kilat. Sony juga tidak menyertakan charger eksternal dan hanya menyertakan kabel micro USB untuk mengisi baterainya. Keuntungan sistem pengisian baterai gadget seperti ini adalah Anda dapat menggunakan baterai gendong atau power pack untuk mengisi baterai RX1 saat berjalan-jalan.

Kesimpulan

Sebelumnya, banyak pihak berpendapat bahwa tidak mungkin ada sebuah kamera berukuran mungil yang dapat dijejali sensor berukuran penuh. Sony mematahkan anggapan tersebut dengan RX1. Kamera saku yang berukuran cukup mungil ini tidak hanya berhasil mengemas sensor full-frame, tapi juga lensa berkualitas tinggi dalam bodi metal yang tangguh dan cantik. Hasil foto di segala suasana juga menakjubkan, dibarengi penggunaan yang responsif dan menyenangkan. Inilah kamera saku dengan hasil foto terbaik di dunia untuk saat ini, mengingat belum ada kamera saku lain yang mengemas sensor berukuran penuh (full-frame).

Namun semua kecanggihan tersebut memiliki harga tersendiri yang harus ditebus. Sony Cybershot RX1 dijual seharga Rp28.999.000. Ini bukanlah harga yang murah. Bahkan kamera DSLR full-frame seperti Sony Alpha A99, Nikon D600, dan Canon EOS 6D bisa didapatkan lebih murah, tanpa lensa tentunya. Namun untuk mendapatkan lensa yang kualitasnya sama seperti lensa RX1, juga dibutuhkan dana tidak sedikit.

Lalu siapa yang cocok memiliki Sony RX1? Saya merekomendasikannya bagi Anda yang memiliki dana cukup dan menginginkan sebuah kamera berukuran ringkas dengan hasil foto terbaik (bahkan melebihi DSLR kelas menengah) yang tidak membebani saat dibawa. Fotografer profesional juga boleh meliriknya jika membutuhkan kamera cadangan yang cukup handal untuk digunakan bekerja.

Kelebihan Sony RX1

+ Kualitas foto amat baik, setara dengan DSLR full-frame
+ Lensa 35mm f/2.0 dari Carl Zeiss amat tajam
+ Autofocus amat cepat, bahkan di kondisi minim cahaya sekalipun
+ Performa noise amat bagus, jauh di atas kamera DSLR dengan sensor APS-C
+ Mode Multi NR ISO sukses mengurangi noise di kondisi gelap
+ Bodi dari logam yang kokoh
+ Menu dan pengaturan cukup baik dan dapat dilakukan dengan cepat melalui tombol-tombol shortcut yang diberikan

Kekurangan Sony RX1

– Harga premium dan setara dengan kamera DSLR full-frame
– Harga aksesori cukup tinggi
– Bagi sebagian pengguna, grip agak kurang menonjol

Verified by MonsterInsights