Home Mobile Gadget Review: HTC Evo 3D

Review: HTC Evo 3D

Review: HTC Evo 3D 1

Era 3D saat ini sedang mulai memasyarakat. Para produsen elektronik, mulai dari televisi hingga ponsel, ikut meramaikan pasar dengan produk-produk 3D mereka. Berbagai cara terus dikembangkan untuk menarik minat calon konsumen, salah satunya dengan membebaskan penikmat konten 3D dari kaca mata.

HTC lewat seri Evo 3D menjadi satu dari sedikit ponsel 3D yang dapat ditemukan di pasaran hingga saat ini. Vendor ponsel premium asal Taiwan tersebut seakan jeli melihat pasar yang ingin tak hanya sebagai penikmat (viewer), namun juga pencipta (creator) konten-konten 3D, baik foto maupun video. Harga sebuah camcorder atau handycam berteknologi ini masih sangat mahal, jadi langkah HTC saya rasa cukup tepat untuk mengisi peluang tersebut. Lalu bagaimanakah performa ponsel berbanderol Rp.5 jutaan ini?

[tab: Desain]

Review: HTC Evo 3D 2

HTC tetap mempertahankan pattern khas ponsel-ponsel premiumnya, jadi Anda yang telah mengenal HTC sebelumnya akan dapat dengan mudah mengidentifikasi merek pemilik smartphone ini meski hanya melihatnya secara sekilas. Tampil dengan layar sentuh mendominasi di penampang depan, Evo 3D juga dilengkapi dengan 4 tombol touch sensitive bulat di bawah layar yakni tombol Home, Menu, Back dan Search. Keempat tombol ini akan memberikan efek getar kecil ketika disentuh.

Review: HTC Evo 3D 3
4 Sensitive-touch Button

Casing belakang, tombol kamera dan tombol pemindah (switch) antara 2D dan 3D didesain dengan guliran yang akan mencegah rasa licin ketika digunakan. Bingkai merah yang mengelilingi 2 lensa dan 2 lampu kilatnya juga membuat ciri menonjol pada Evo 3D yang sangat eye catchy. Sepintas mirip kaset pita, yah?

Review: HTC Evo 3D 4
Tombol kamera dan pemindah mode 2D/3D

Sisi atas seperti biasa diletakkan jack 3,5mm serta tombol power untuk menghidupkan. Mikrofon juga hadir di sini melengkapi satu di sisi bawah sehingga menciptakan efek stereo ketika merekam video. Port microUSB bisa ditemukan di sebelah kiri bodinya yang hanya setebal 12,1mm ini. “Hanya 12,1mm”? Ya, karena mengingat teknologi 2 lensa yang dimilikinya membutuhkan ruang lebih, ketebalan ini masih terasa wajar.

Review: HTC Evo 3D 5
Tombol daya dan jack audio

Bagaimanapun, desain sebuah perangkat tetap dapat dinilai meski bersifat sangat subyektif. Dan, bagi saya, tampilan keseluruhan HTC Evo 3D sangat mantap terutama pada bagian belakangnya yang eye-catching tersebut. Ukurannya ini tidak mengganggu karena saya masih dapat memasangkannya dengan tripod universal untuk ponsel. Serta bobotnya yang 170 gram tidak terlalu berat untuk sebuah ponsel namun tidak juga terlalu ringan untuk sebuah camcorder.

Review: HTC Evo 3D 6
Slot microSD: hotswap namun sulit dijangkau

Slot microSD terletak di dalam casing belakang plastiknya yang sulit dibuka sekaligus agak ringkih terutama bagian sambungan pada sisi tombol switch mode kamera. Ini membuatnya sulit dijangkau meski sudah bersifat hotswap (dapat dilepas-pasang tanpa perlu mematikan perangkat karena melepas baterai). Sebenarnya slot ini akan dapat dijangkau dari luar tanpa harus membuka casing belakang jika letaknya agak sedikit keluar (dan tentu jika HTC menyediakan lubangnya).

[tab:Benchmarking]

Review: HTC Evo 3D 7
Benchmark Quadrant

Ketika diuji menggunakan Quadrant standart edition, hasil di angka 1868 yang didapat oleh Evo 3D terlihat cukup meyakinkan. Apalagi ia menduduki peringkat pertama di atas Nexus One dan Motorola Droid X.

Review: HTC Evo 3D 8
Skor benchmark Vellamo

Ketika diuji dengan aplikasi benchmark lain yakni Vellamo, Evo 3D unggul di poin Rendering yang berada cukup jauh dengan Samsung Galaxy Tab 10.1 dan HTC Desire S. Sedangkan untuk menguji berapa banyak sentuhan yang dapat dibaca atau direspons oleh layar 4.3 incinya, saya melakukan pengujian dengan Multitouch Benchmark. Hasilnya, Evo 3D hanya mampu merespons maksimal 4 sentuhan secara bersamaan saja.

Review: HTC Evo 3D 9
Benchmark multitouch

[tab:Antarmuka]

Review: HTC Evo 3D 10 Review: HTC Evo 3D 11

Masuk ke sektor interface, ada satu skin atau tema yang menjadi favorit saya karena motif latarnya sepintas mirip dengan batik (seperti pada gambar di atas). Selain itu, HTC memberikan kemampuan carousel sehingga Anda dapat “memutar” halaman beranda Evo 3D tanpa batas, juga kemampuan untuk mengakses beberapa fitur dari layar kunci, serta panduan cuaca 3D yang didukung oleh Accu Weather. Yang menarik dari info cuaca ini adalah efek audio visual yang ditimbulkan. Misalnya kondisi cuaca hujan badai, maka akan muncul bintik-bintik air di kaca yang akan segera dibersihkan dengan wiper, lengkap dengan suara dentuman halilintar. Semuanya berkat fitur HTC Sense 3.0.

Review: HTC Evo 3D 12 Review: HTC Evo 3D 13

Meski menjual nama “3D”, namun patut disayangkan Evo 3D tidak memberikan interface 3D pula layaknya LG Optimus 3D. Juga, tidak ada pengklasifikasian khusus aplikasi-aplikasi 3D untuk memudahkan penggunanya. Jadi bisa dikatakan HTC Evo 3D bukan merupakan ponsel 3D, melainkan ponsel 2D yang mampu menciptakan konten 3D. Sayang sekali, yah?

Review: HTC Evo 3D 14
Menu utama yang tampil biasa dengan 2D

Ketika kita menggeser tray di layar atas ke bawah, akan kita temukan kolom notifikasi (notification bar) dan pengaturan cepat (quick settings). Di halaman notifikasi, kita tak hanya dapat mengakses pemberitahuan terbaru saja, melainkan aplikasi atau fitur terakhir yang kita gunakan berbaris rapih di satu kolom terpisah. Sedangkan hadirnya akses cepat ke pengaturan membuat kita tak perlu banyak jalan untuk sekedar menyalakan/mematikan Bluetooth, WiFi, GPS bahkan peranggitan (tethering).

Review: HTC Evo 3D 15
Bar notifikasi dan pengaturan cepat

[tab:Fitur 3D]

Foto 3D

Hasil foto yang diciptakan oleh Evo 3D memiliki format MPO. Untuk dapat menikmatinya di PC, Anda memerlukan software khusus yang bisa dicari di Google dengan mengetikkan “MPO viewer”. Ada banyak kok yang gratis. Mengenai hasil foto 3D, selama Anda memegang dengan tegak-horizontal, imaji 3 dimensi dapat tercipta dengan baik. Sekedar saran, coba ambil obyek yang memiliki ruang kedalaman baik dan menonjol.

Video 3D

Jangan mengambil di tempat gelap atau temaram! Efek 3D hanya dapat tercipta sempurna jika Anda berada di tempat yang terang, dengan ruang kedalaman antara obyek dengan background yang sesuai. Hasil video berformat MP4 dan tetap dapat dinikmati di PC – dengan catatan, jika monitor Anda belum 3D, maka akan nampak menjadi 2 layar kiri dan kanan. Hal ini disebabkan oleh sistem yang akan menerjemahkan video secara “harafiah” (Evo 3D merekam dengan kedua lensa kameranya secara bersamaan, karena itu video akan ditampilkan pula bersamaan di 2 jendela terpisah).

Untuk menikmati video di atas dalam format 3D, klik judulnya untuk masuk ke laman YouTube. Lalu aktifkan mode 3D dengan meng-klik simbol 3D di bawah navigation bar.

Game 3D

Total ada 2 game berfitur 3D yang dapat ditemui dalam menu Evo 3D: Need For Speed (NFS) Shift 3D dan Spiderman 3D. Pada NFS, agak sulit menemukan posisi arah layar yang tepat untuk menemukan feel 3D, dan beberapa orang yang mencobanya mengatakan tampilannya membuat pusing. Meski saya tidak mengalami hal itu, namun Anda bisa mengatur seberapa “dalam” tampilan 3D-nya.

Sedangkan untuk Spiderman 3D, meski grafis kartunnya masih lumayan kasar, namun efek 3D cukup bisa dirasakan selama permainan. Mata saya juga tidak cepat merasa lelah ataupun pusing – namun efek ini mungkin bervariasi pada tiap orang.

[tab:Fitur Lain]

HTC Sense
Salah satu fitur yang khas dari HTC dengan “Sense”-nya adalah sensor pada ponsel yang bisa mengenali lingkungan sekitar: jika Anda adalah seorang wanita yang suka meletakkan ponsel di dalam tas, maka ketika ada telepon masuk, ponsel akan berdering keras agar Anda bisa mendengarnya. Ketika Anda membuka tas dan menggapainya, volume deringnya akan mulai mengecil. Hingga pada akhirnya ponsel berhadap-hadapan langsung dengan Anda, deringnya akan mati sama sekali. Keren bukan? Atau jika Anda berada dala ruang rapat dengan ponsel di atas meja yang lupa Anda heningkan, ketika ada dering telepon masuk, cukup langsung letakkan terbalik maka ponsel akan diam. Tak perlu panik.

Friend Stream

Review: HTC Evo 3D 16
Kumpulkan berbagai update dalam satu jendela

Punya banyak teman yang eksis? Atau mengikuti akun informasi jalan raya di twitter? Manfaatkan fitur Friend Stream yang merupakan salah satu fasilitas dari Sense-nya HTC . Friendstream dapat ditemukan di salah satu halaman beranda, log in dengan akun twitter Facebook dan/atau twitter Anda, maka dengan frekuensi yang dapat diatur, Friend Stream akan menampilkan berbagai update dari teman-teman Anda di kedua akun tersebut.

Peta & Navigasi

Review: HTC Evo 3D 17
Silakan pilih metode pembelian peta Anda.

HTC memiliki navigator alias penunjuk arah mengemudi yang telah mendukung turn-by-turn – sayangnya Anda masih harus membeli peta wilayah untuk memaksimalkannya. Atau, gunakan saja fitur peta & navigasi bawaan Google yang juga mampu menampilkan beberapa obyek seperti gedung atau monumen secara 3D. Dukungan prosesor dual core-nya membuat proses pembacaan peta berlangsung lancar.

Review: HTC Evo 3D 18
Tampilan 3D dalam fitur navigasi

Transfer

Dengan aplikasi Transfer, Anda bisa menyalin daftar kontak, kalender dan/atau SMS dari ponsel lama Anda ke dalam Evo 3D. Tak semua merek dan tipe yang didukung, namun ketika saya mengoneksikannya dengan BlackBerry Torch 9800 yang tidak terdapat di list jenis yang didukung, proses pemindahan gagal diselesaikan meski dapat berhubungan pada awalnya. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai fitur ini akan saya tuang dalam artikel tips.

[tab:Kinerja]

Sekedar catatan, produk yang saya uji bukanlah produk yang dijual ke pasaran. Saya mendapat HTC Evo 3D ini dalam kotak putih polos, tanpa kartu garansi, buku manual, dan kartu perdana XL yang memiliki bonus data. Hal yang membedakan adalah biasanya produk yang pada akhirnya dilempar ke pasaran merupakan produk Final Release dengan perbaikan di sana-sini, sehingga beberapa hasil kinerja yang saya alami mungkin tidak akan Anda temukan.

Dalam beberapa jam pemakaian awal, saya telah menemukan semacam bugs berupa layar sama sekali tidak mau merespons sentuhan; mulai dari sentuhan lembut hingga agak menekan terutama pada halaman Setting. Namun ponsel tidak berhenti bekerja atau mengalami hang, karena ketika saya menekan tombol Beranda atau Kembali, perintah dapat direspons dengan normal kembali. Hal ini saya temui hingga beberapa kali dalam rentang waktu beberapa minggu pengujian di lokasi yang sama.

Penggunaan baterai di Evo 3D termasuk boros. Bahkan ketika saya sudah menggunakan baterai berkapasitas lebih besar (3,500 mAH), dari indikator penuh dapat berkurang beberapa persen hanya karena layar menyala terus selama beberapa menit. Namun di luar 2 hal tadi, kinerja keseluruhan Evo 3D cukup stabil serta responsif.

[tab:Kesimpulan]

Review: HTC Evo 3D 19

Teknologi 3D yang dimiliki oleh perangkat ini merupakan jualan utama yang mampu bekerja dengan baik. Foto maupun video, selama diambil dengan cara yang benar, akan mampu dinikmati tanpa perlu menggunakan kaca mata lewat layarnya yang cukup luas. Sayang, tidak seperti kompetitor utamanya, LG Optimus 3D, HTC tidak memberikan interface 3D pula pada menu-menunya.

Borosnya baterai mungkin terasa wajar, namun akan lebih baik jika HTC dapat menambah manajemen daya yang membuat penggunaan baterai sedikit lebih hemat. Berbagai kendala yang saya temui seperti tidak mau meresponsnya layar, semoga hanya merupakan bugs yang telah diperbaiki di versi jualnya.

Dengan harga di kisaran Rp 5 jutaan, saya merasa ponsel ini akan cocok bagi Anda yang ingin mencoba untuk menciptakan konten 3D, tanpa perlu merogoh kocek yang lebih dalam lagi mengingat harga handycam 3D memiliki harga di jauh di atas itu.

Pros:
(+) Start-up cepat
(+) Desain eye catching
(+) Kamera stereoscopic dengan 2 LED Flash
(+) Layar 3D tanpa perlu kaca mata
(+) Sudah disertai game 3D
(+) HTC Sense 3.0
(+) Kinerja stabil dengan prosesor dual core

Cons:
(-) Baterai boros
(-) Layar kadang tidak merespons di menu tertentu
(-) Tanpa interface 3D
(-) Slot microSD sulit dijangkau
(-) Casing plastik agak ringkih

Review: HTC Evo 3D 20
rtkLee
Memiliki pengalaman melaporkan dan mengulas produk telekomunikasi sejak 2009, pria bernama lengkap Rateka Winner Lee ini juga menggemari dunia videografi berkat latar pendidikannya di FFTV IKJ.

1 KOMENTAR

Comments are closed.