Review Acer Iconia Tab A500

Vendor asal Taiwan tentunya tak mau tinggal diam dalam menyikapi berbagai inovasi produk tablet PC milik produsen dari Amerika, Korea Selatan, Kanada bahkan China. Tak hanya Asus dengan Eee Pad Transformer, pemain lain yang ikut berkecimpung di segmen ini adalah Acer. Setelah merambah ke smartphone berbasis Android, Acer melebarkan sayapnya ke segmen tersebut dengan cukup serius seperti terlihat dari produk tablet terbarunya yang akan saya review kali ini, Iconia Tab A500.

svg%3E
Acer Iconia Tab A500

Pilihan layar 10 inci dan OS Android Honeycomb menjadikan A500 berhadapan langsung dengan Samsung Galaxy Tab 10.1 dan Asus Eee Pad Transformer. Harga saat launching beberapa bulan lalu menurut situs resmi Acer Indonesia adalah Rp.5,090,000 untuk kapasitas 32GB, sedangkan untuk yang 16GB bisa Anda dapatkan dengan Rp.4,290,000.

Konsep & Desain

A500 mengambil konsep lanskap memanfaatkan layar 10 incinya yang berorientasi wide, seperti layaknya Galaxy 10.1 dan Transformer. Desainnya terasa pas ketika digunakan oleh dua tangan, dan bobotnya tidak cepat membuat lelah ketika tangan yang satu digunakan untuk menumpu dan tangan yang lain untuk mengakses menu di layar. Sayang, material plastik di bagian belakang terasa ringkih. Saya bisa mendengar bunyi “krek” di salah satu bagian ketika mencoba untuk menekannya, alias struktur bodinya belum solid.

svg%3E
Tombol pengatur volume dan pengunci orientasi layar

Di bagian atas terdapat tombol pengatur volume, pengunci orientasi layar dan slot microSD yang tersembunyi. Di sisi sebelah kanan, saya menemukan port charging, slot microUSB dan slot USB yang memungkinkan saya untuk langsung mencolokkan flashdisk; serta sebuah tombol Reset. Untuk mengakses tombol tersebut harus menggunakan ujung runcing seperti jarum. Namun tombol ini tak sempat saya coba karena selama pengujian, A500 tak sekalipun mengalami error.

svg%3E
Bodi belakang Iconia Tab A500 yang terbuat dari plastik

Tombol Power terletak di sisi kiri, ditemani oleh 3.5mm jack dan port HDMI. Sedangkan di sisi bawah, saya menemukan docking untuk menghubungkan A500 dengan hardware lain. Sisi muka A500 terlihat minimalis, namun ini justru menjadikannya elegan. Hanya terdapat kamera depan saja yang berada di frame kiri layar. Sedangkan pada bagian belakang atau bawah, logo acer di tengah yang terlihat eksklusif, kamera lengkap dengan lampu kilat di kanan atas, stereo speaker di kiri-kanan bagian bawah, plus pemilihan warna metal pada bodi yang dapat mengurangi kesan plastik yang digunakannya.

Layar & UI

Walau mungkin belum maksimal, saya rasa Google berhasil mencipatakan sebuah antarmuka yang benar-benar segar pada OS khusus tabletnya ini. Mulai pada homescreen, menu, ikon dan pola gestur mengalami perubahan. Misalnya pada homescreen, pada Android versi sebelumnya ketika kita menyentuh-tahan layar, akan muncul opsi untuk mengganti wallpaper. Sedangkan pada tablet Honeycomb milik Acer ini, opsi yang keluar lebih banyak pilihan dengan tampilan yang interaktif, seperti Widgets, App shortcut, Wallpapers dan More (yang bisa dilakukan juga dengan memilih simbol plus di pojok kanan atas).

Untuk berpindah halaman juga terdapat sedikit perbedaan. Di A500, kita bisa berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya tidak hanya dengan melakukan sapuan ke samping pada layar, namun juga dengan cara menyentuh atau mengetuk di sisi kanan atau kiri layar. Tak hanya itu, sistem juga akan meninggalkan “jejak” berupa pola bentuk dari aplikasi-aplikasi di “halaman sebelah” pada menu utama. Sangat menarik.

svg%3E

Menggunakan layar sentuh kapasitif 1280×800 piksel serta kedalaman 256 ribu warna, layar A500 terasa nyaman digunakan – dengan catatan, bukan berada di bawah matahari langsung karena meski masih bisa dilihat, pantulan dari kaca akan sangat menghambat interaksi kita dengan layar. Respons yang diberikan terbilang bagus, termasuk multitouch-nya yang mampu membaca lebih dari 10 sentuhan kulit manusia dalam waktu bersamaan.

Audio/Video

Spesifikasi kedua fitur multimedia ini terlihat menjanjikan. Di sektor suara, selain dibekali stereo speaker seperti yang telah saya sebutkan di atas, Acer juga menyuntikkan sistem suara Dolby Mobile ke dalamnya. Hal ini membuat keluaran suara A500 memiliki dinamika yang baik, bulat dan jernih. Namun konsekuensinya adalah, Anda tidak akan mendapat suara keras yang optimal. Ketika saya setel ke maksimum di lingkungan yang agak ramai, suara dari game yang saya mainkan masih terdengar pelan.

Kualitas suara ala Dolby Mobile terasa maksimal ketika saya menggunakan earphone, bahkan yang standar sekalipun. Mungkin terdengar berlebihan, namun memang seperti berada di dalam bioskop. Tentu dengan catatan file yang dimainkan memang memiliki output suara baik, bukan hasil rekaman video, misalnya. Lalu, selain pemutar audio standar, A500 juga dilengkapi dengan fitur pencari lagu, MusicA.

Begitu pula di sektor video. A500 memiliki dua kamera dengan resolusi 5MP (belakang) dengan autofocus dan lampu kilat, yang mampu merekam video HD 720p di 30fps, serta kamera depan beresolusi 2MP. Namun dengan space yang begitu luas, sangat saya sayangkan Acer hanya menempatkan lensa kamera yang kecil, sehingga saya sempat menyangsikan hasil foto maupun videonya.

Lalu saya pun mencoba membidik obyek, baik di dalam ruang maupun di luar ruang. Selama membidik, saya merasa autofokusnya kurang baik bekerja sehingga walaupun masih nampak cukup jelas, detil dari obyek tersebut menjadi hilang. Namun tentu saja, lampu kilatnya sangat membantu jika berada dalam ruang bercahaya kurang.

Sedangkan di luar ruang, saya tak lupa mencoba kinerja digital zoom-nya. Anda dapat melihat pada kedua foto di halaman berikutnya, di mana foto pertama saya ambil dalam modus normal, sedangkan yang kedua memanfaatkan pembesaran maksimal. Jarak yang dapat dicapai cukup jauh, namun hasilnya bisa ditebak: pecah dan tidak fokus. Meski begitu masih dapat diandalkan untuk kebutuhan dokumentasi ringan atau jejaring sosial.

Mencoba merekam video di lokasi yang sama (outdoor), selama proses perekaman saya masih dihinggapi rasa pesimis yang sama pula. Ternyata hasilnya tak begitu mengecewakan, gambar dan suaranya cukup jelas karena direkam dengan resolusi HD, meski entah mengapa Acer hanya memberikan format 3gp. Hasil video juga kadang masih mengalami lag, serta hilangnya audio di awal dan akhir perekaman yang cukup mengganggu.

Performa

Performa A500 ketika diajak berselancar internet cukup menjanjikan – selama Anda terjangkau sinyal WiFi tentu. Maklum saja, tak ada slot SIM/UIM card di sini, sehingga Anda tak dapat memanfaatkan jaringan seluler. Sedangkan “cukup menjanjikan” yang saya maksud di atas adalah performanya yang cepat dalam membuka halaman demi halaman situs, serta tampilannya yang fit di layar. Namun tetap saja tak lepas dari kekurangan: ketika saya menyapu layar ke atas atau ke bawah selama browsing, pergerakannya tidak smooth alias patah-patah.

Yang sempat membuat saya tercengang adalah kemampuan baterainya dalam bertahan. Sejak diisi penuh, saya menggunakan A500 untuk bermain (paling sering), lalu memutar video, berfoto, dan kegiatan yang berhubungan dengan multimedia lainnya, baterai masih mampu bertahan dalam waktu 2 hari! Namun dengan catatan bahwa saya belum sama sekali menggunakannya untuk terhubung ke Internet.

Ada 3 game bawaan di A500 yang bisa dimainkan, Hero of Sparta, Let’s Golf dan Need for Speed Shift. Ketiganya sudah dalam format High Definition dengan keluaran suara yang ‘nendang’, apalagi jika didengarkan dengan earphone atau headset. Namun, lagi-lagi saya merasakan masalah saat bermain, tepatnya ketika mengatur volume suara saat video pembuka Let’s Golf dimainkan. Video akan ter-pause lalu akan keluar keterangan bahwa video gagal dimainkan.

Secara umum, Acer Iconia Tab A500 ini sangat cocok untuk keperluan fun alias bersenang-senang. Performanya tidak dapat dikatakan jelek walau masih banyak saya temui kelemahan. Termasuk ketika saya mencoba mencolokkan flashdisk maupun HDD eksternal ke port USB-nya, di mana A500 tak mau membaca kedua device tersebut. Selebihnya, baik mendengarkan musik maupun menonton video – dengan opsi perbesaran ke layar HDTV via kabel HDMI – tergolong apik dan menyenangkan, dengan fasilitas audio dari Dolby yang sudah tersohor.

Intinya, Acer Iconia Tablet A500 ini patut dijadikan pilihan bagi Anda yang ingin mencari tablet 10 inci alternatif. Soal beberapa bugs yang saya temui, semoga telah diatasi oleh Acer pada versi jualnya.

Pros:
+ Desain menarik
+ Android Honeycomb OS
+ Performa layar oke
+ Dolby Mobile
+ Baterai tahan lama
+ Port HDMI dan USB

Cons:
– Material bodi belakang ringkih
– Hasil kamera kurang maksimal
– Walau sudah didukung prosesor berkecepatan tinggi, masih sesekali mengalami lag
– Keluaran speaker eksternal kurang powerful

Verified by MonsterInsights