Foto & VideoKamera MirrorlessKamera sakuReview

Review Fujifilm X100F: Evolusi Kamera Rangefinder Digital

Unik dan keren
Cek Harga

Pada saat dirilis tahun 2011, Fujifilm X100 mengguncang dunia dengan bodi kompak, sensor APSC dan bentuknya yang klasik. Kamera ini menjadi semacam cetak biru bagi line-up kamera mirrorless Fujifilm selanjutnya seperti X-Pro 1, X-E1, hingga X-T1. Kini, menjelang 2018, apakah X100F sebagai generasi keempat seri X100 masih relevan?

Dari segi fitur, X100F menggunakan sensor berukuran APSC (24x18mm) dengan resolusi 24MP seperti yang disematkan Fujifilm pada jajaran baru X-T2, X-Pro 2, dan X-T20. Lensanya memiliki rentang fokal 23mm f/2, setara dengan 35mm pada kamera full frame.

Desain rupawan nan klasik
Fujifilm rupanya mempercayai kredo “don’t change the winning design.” Desain X100F yang masih mirip seperti kamera rangefinder jadul nyaris tidak berbeda dengan generasi X100 pertama. Yang sedikit berbeda hanyalah beberapa lekukan di bagian atas.

 

Secara ukuran, X100F seperti kamera mirrorless pada umumnya. Yang bikin kamera ini kelihatan kecil adalah lensa 23mm f/2 yang berukuran pancake. Berkat lensa mungil itu, X100F bisa dimasukkan ke dalam saku jaket, atau kantung celana –asal bukan celana ketat.

Bahan karet sintetis yang melapisi X100F cukup keset, namun grip yang ditawarkan sekadar tonjolan saja sehingga bagi Anda yang terbiasa memegang DSLR harus membiasakan diri. Untuk amannya selalu gunakan tali strap.

Sementara bagian top dan bottom plate X100F terbuat dari metal, dengan bahan doff. Keseluruhan desain yang klasik ini bikin X100F terlihat stylish dan elegan dibanding mirrorless dengan harga yang setara. Memang, jika Anda pernah merasakan built quality kamera rangefinder Leica seri M, Fujifilm X100F akan terasa seperti versi murahnya.

Tetap fungsional dengan banyak kendali fisik

Namun untuk urusan masalah fungsional, X100F lebih unggul dibanding Leica M. Fitur-fitur berikut bahkan tidak/belum dijumpai pada mirrorless canggih semacam Sony A7 series.

Tombol pengaturan shutter speed dan ISO pada top plate dan aperture pada lensa akan memudahkan pengguna mengatur metering secara manual. Kecuali ISO, fitur manual itu sudah ada sejak X100 orisinal.

Yang baru dibandingkan kamera X100 sebelumnya adalah tombol joystick. Ini memungkinkan pengendalian yang lebih terukur saat Anda mengatur arah autofokus, jauh lebih cepat daripada menggunakan d-pad. Hal ini penting, karena ada peningkatan jumlah titik autofokus dibanding X100T. Kini ada 91 titik fokus, yang bisa ditingkatkan menjadi 325 titik jika dibutuhkan.

Viewfinder canggih
Salah satu keunggulan terbesar seri X100 adalah opsi untuk pemilihan jendela bidik (viewfinder). Untuk seri X100, Fujifilm menggabungkan jendela bidik optikal dengan digital. Fitur ini ada pada seri X-Pro, dan tidak pernah dibuat oleh perusahaan kamera lainnya.

Digital diwakili EVF (electronic viewfinder) sebagaimana mirrorless lain, yang mampu menampilkan bidikan sesuai dengan hasilnya kelak. Sementara optikal hanya sekadar kaca jendela bidik yang dilapisi dengan layer digital sebagai  penanda informasi.

Mungkin Anda merasa jendela bidik jenis optikal tidak berguna, namun untuk beberapa fotografer, memotret menggunakan EVF juga terasa tidak nyaman dan tidak intuitif, seperti melihat layar gadget dari jarak dekat, tidak luas dan hidup seperti jendela bidik optikal.

_DSF4414

Untuk memilih jenis viewfinder, Anda dapat menggunakan kenop yang berada di depan, sebelah kiri pada kamera ini (jika posisi kamera menghadap Anda), sembari tetap melihat frame.

Performa
Dari segi performa autofokus, peningkatan dari X100T tidak terasa signifikan. Autofokus memang cepat, tapi dalam kondisi kurang cahaya, performanya bakal berkurang. Namun untuk mengejar momen rasanya masih cukup, kecuali jika Anda menggunakan untuk memotret olahraga.

Dengan desain ala kamera klasik, X100F tidak memiliki mode pemotretan belasan frame per detik. Maksimal 8 fps, yang seharusnya sudah cukup bagi sebagian besar pengguna.

Sementara, kecepatan startup, jeda antar foto, dan operasi menu sama sekali tidak bermasalah, dan sangat smooth. Kamera ini selalu siap untuk membidik momen. Apalagi kemampuan baterai meningkat, dari seri NP-95 menjadi NP-W126S. 300 foto lebih untuk sekali pengisian akan tercapai, dan bakal lebih irit jika Anda menggunakan jendela bidik optikal saja.

Yang terasa kurang adalah kecepatan WiFi saat mengirim foto dari kamera ke smartphone. Proses penyalinan foto berjalan sangat lambat dibandingkan produk pesaing seperti Sony dan Panasonic, padahal resolusi foto yang dikirim sudah dikurangi menjadi 3 Megapiksel saja.

_DSF4643

Catatan tersendiri ada pada shutter. X100F melanjutkan tradisi seri sebelumnya dengan shutter jenis leaf yang terletak pada lensa, bukan pada bodi kamera. Shutter jenis ini memungkinkan sinkronisasi kecepatan flash hingga 1/1000 detik saat kondisi lensa sedang terbuka penuh (f/2). Ini berguna saat tengah hari ketika kondisi backlight mengharuskan Anda menyalakan flash, namun Anda masih mau menggunakan diafragma terbuka penuh.

Keunggulan lain dari leaf shutter adalah pemotretan yang lebih halus, nyaris tidak ada suara kecuali bunyi ‘klik’ yang sangat kecil. Sehingga memungkinkan Anda memotret tanpa mengganggu orang sekitar dengan suara shutter yang berisik. Ingin pemotretan tanpa suara sama sekali? X100F masih punya mode electronic shutter, yang mampu memotret sampai kecepatan 1/32.000 detik.


Hasil foto bagus
Inilah satu hal yang bikin X100F terasa spesial dibanding X100T. Resolusi meningkat dari sensor X-Trans II 16MP menjadi X-Trans III 24MP. Foto yang dihasilkan lebih tajam.

Rentang dinamisnya juga lebih tinggi, sementara performa ISO tinggi masih aman hingga ISO 6400. Dalam kesempatan tertentu, ISO 12800 juga masih bisa digunakan untuk sekadar diunggah ke media sosial, meski jika digunakan untuk dicetak bakal terbatas, karena noise yang dihasilkan sudah dalam taraf cukup mengganggu.

_DSF4539

Namun, yang menarik bukan ketajaman dan performa noise saja. Seperti biasa, hasil foto Fujifilm seperti slogan produk filmnya pada 1990-an: “Seindah Warna Aslinya”. Atau, mungkin malah lebih indah. Dengan beberapa simulasi film seperti Astia, Provia, Velvia, dan Classic Chrome, Anda bisa bikin foto sesuai dengan mood yang diinginkan.

_DSF0379

Simulasi terbaru adalah Acros, yang juga bisa dijumpai di X-Pro 2 dan X-T2. Acros adalah film hitam putih yang saat ini masih diproduksi oleh Fujifilm.

Tambahan baru dibanding X100T adalah ‘grain’, yang juga terinspirasi dari zaman roll film masih berkuasa. Tidak seperti file digital yang dibentuk oleh piksel, foto pada film terbentuk oleh butir-butir (grain) kimiawi.

Nah, Fujifilm memungkinkan pengguna bereksperimen dengan menambahkan grain pada foto-foto mereka. Ditambah dengan fitur simulasi film, pengguna bisa merekreasi foto seakan mereka menggunakan kamera analog.

_DSF4541
_DSF4530

Fitur lain khas Fujifilm yang dipertahankan adalah kemampuan menyunting file RAW di dalam kamera. Dengan begitu, pengguna bisa langsung menikmati foto tanpa perlu menyuntingnya melalui aplikasi pihak ketiga.

Untuk masalah lensa, Fujifilm masih menggunakan lensa yang sama persis dengan tiga seri sebelumnya. Kelemahannya masih sama. Lensa 23mm f/2 ini tajam, asalkan Anda menggunakan bukaan f/4 atau lebih kecil.

Di bukaan f/2 dan f/2.8, hasilnya agak soft, terutama jika Anda memotret close up. Namun, bokeh yang dihasilkan menarik, creamy dan sangat halus. Kesimpulannya, lensa ini adalah lensa yang ‘berkarakter’ klasik, tidak ‘bersih’ seperti lensa modern pada umumnya.

_DSF4135

Sayangnya, manual fokus menggunakan lensa ini kurang asyik, tepatnya kurang intuitif. Ini karena fokusnya menggunakan kabel elektronik (focus by wire), tidak benar-benar manual seperti lensa-lensa jadul.


Kesimpulan
Dengan segala keunggulannya itu, Fujifilm X100F tetap merupakan produk niche. Mengapa? Karena untuk harganya, Anda akan dibuat bimbang dengan kamera mirrorless Fujifilm lain yang bisa berganti lensa.

Namun, langkah perusahaan asal Jepang itu patut diacungi jempol. Karena dengan seluruh fitur dan keunggulannya, Fujifilm benar-benar total dalam membuat X100F, demi memuaskan segelintir orang yang menginginkan kamera kecil berdesain klasik, memiliki fitur-fitur yang juga klasik, namun tetap bernuansa modern.

Jadi bagi yang tidak ingin berganti lensa dan merasa kebutuhannya terpenuhi oleh lensa Fujifilm X100F, kamera ganteng ini layak dipertimbangkan.

Yang Canggih:

  • Joystick yang sangat membantu pengoperasian
  • Bodi ringkas dan enteng
  • Sensor baru, hasil lebih detil
  • Pengoperasian maksimal untuk pecinta manual
  • Jendela bidik hibrid
  • Leaf shutter

Yang Kurang:

  • Lensa menghasilkan foto yang soft pada bukaan terbesar
  • Kecepatan pengiriman melalui Wi-Fi lambat
Kamera retro klasik dengan hasil foto menawan
Dengan desainnya yang klasik, Fujifilm X100F tampil sendiri sebagai kamera digital bergaya rangefinder yang unik dan tidak mencolok tapi tetap mampu menghasilkan foto-foto menawan
Unik dan keren
Cek Harga

Komentar

Beri komentar

Close