Review Fujifilm X-Pro3

4.1
Kamera unik & nostalgic
Cek Harga

Sejak kemunculannya pertama kali di tahun 2012, Fujifilm X-Pro sukses tampil unik dan menggugah hati. Konsep kamera berdesain rangefinder dengan teknologi viewfinder hybrid membuatnya tampil unik. 7 tahun berselang dan ternyata Fujifilm masih bisa menyajikan kamera digital yang menggugah hati saat memakainya.

Menyajikan beberapa tambahan fitur, Fujifilm X-Pro3 ternyata tampil mengejutkan. Dari sisi desain, Fujifilm X-Pro3 masih mempertahankan konsep desain rangefinder dengan viewfinder hybrid. Tapi ada perubahan besar yang diimplementasikan Fujifilm untuk X-Pro3.

Desain baru

Perubahan besar X-Pro3 langsung terlihat di bagian belakang. Anda tidak akan melihat layar LCD seperti biasa. Sebagai gantinya, ada layar kecil yang disebut Sub-Monitor. Layar mungil ini dapat disetel untuk menampilkan setting kamera atau setting Film Simulation. Gambar representasi Film Simulation di Sub-Monitor ini juga dibuat khusus menyerupai potongan film analog berbentuk kotak. Sayangnya LCD kecil ini agak redup sehingga kurang jelas dalam kondisi cahaya terang.

Dengan bagian belakang yang serasa tanpa layar seperti kamera mirrorless pada umumnya, pengalaman memotret menggunakan X-Pro3 juga berbeda. Secara insting, pengguna akan langsung menggunakan viewfinder saat memotret.

Layar lipat yang tidak terlihat juga bisa mengurangi kecenderungan fotografer yang terbiasa mengecek hasil foto setelah menjepret (biasa disebut chimping). Jadi rasanya seperti memotret dengan kamera analog.

Nostalgia euforia memotret dengan kamera rangefinder ini amat selaras dengan desain X-Pro3 yang klasik. Selain warna hitam, Fujifilm menambahkan dua varian dengan finishing warna baru yaitu Dura Black dan Dura Silver. Ini merupakan finishing matte atau non kilap dengan warna yang memiliki aksen gradasi. Hasilnya, X-Pro3 terlihat lebih klasik dan eksklusif dalam balutan warna ini. Sayangnya, harga X-Pro3 dalam dua warna Dura ini lebih mahal sekitar 3 juta rupiah.

Film Simulation baru

Review Fujifilm X-Pro3 16 fujifilm, Fujifilm X-Pro3, review fujifilm, xpro3

Satu lagi hal baru yang unik di X-Pro3 adalah adanya film simulation baru yaitu Classic Negative. Simulasi film ini memberikan warna hitam yang lebih pekat dengan kontras tinggi. Berikut contoh beberapa hasil foto dengan Film Simulation Classic Negative, langsung dari kamera.

DSCF0402

DSCF0175

DSCF0483

Seperti Film Simulation lain, Classic Negative tidak akan cocok untuk semua subyek dan obyek. Semua dikembalikan ke selera pengguna. Sebagai contoh, berikut perbandingan Classic Negative & Velvia pada obyek yang sama.

Classic Negative

Velvia

Kinerja dan Hasil foto

Menggunakan sensor yang sama seperti X-T3, tidak mengherankan jika hasil foto X-Pro3 mirip dengan hasil foto X-T3. Seperti kamera Fujifilm X-Series di kelasnya, skin-tone dapat ditangkap dengan baik oleh X-Pro3. Reproduksi warna kulit terlihat lebih cerah dan halus, terutama jika menggunakan Film Simulation PRO Neg. Hi dan PRO Neg. Std, seperti contoh foto berikut.

DSCF0137

Noise yang relatif rendah pada setting ISO tinggi (hingga 3400) membuat X-Pro3 tetap dapat diandalkan saat kondisi minim cahaya. Dari pengujian, hasil foto X-Pro3 relatif aman hingga ISO 6400 dengan noise yang cukup terkendali dan detil yang tetap oke.

Berikut beberapa hasil foto dari X-Pro3 tanpa penyuntingan sama sekali.

DSCF0702

DSCF0556

DSCF0578

Ada beberapa kasus saat fokus yang terkunci ternyata tidak sesuai dengan hasilnya. Tapi perlu diingat, firmware saat kami mencoba masih tahap awal sehingga ada kemungkinan Fujifilm sudah memperbaiki hal tersebut. Namun dari pengujian, kinerja fokus X-Pro3 masih di bawah X-T3 dalam hal akurasi dan kecepatan.

Kemampuan merekam video juga terbatas, dengan dukungan 4K hingga 30fps serta video Full HD pada 120fps. TIdak ada dukungan perekaman HLG atau kemampuan output video dengan sinyal 10-bit 4:2:2 ke output HDMI. Wajar mengingat X-Pro3 tidak dilengkapi port HDMI.

Jadi boleh dibilang, X-Pro3 lebih ditujukan bagi pengguna yang gemar memotret dan sesekali merekam video.

Pengalaman berbeda saat memotret

Mengulas Fujifilm X-Pro3 tidak cukup hanya bicara soal spesifikasi teknis, tapi juga dari sisi emosi yang tentunya dikembalikan ke masing-masing pengguna. Bagi pengguna yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia fotografi, bahkan mungkin sudah akrab dengan kamera analog berbasis film seluloid, Fujifilm X-Pro3 mengembalikan sensasi serunya menggunakan kamera analog yang tidak memiliki layar tapi dengan sederetan fitur digital canggih terbaru di baliknya.

Review Fujifilm X-Pro3 17 fujifilm, Fujifilm X-Pro3, review fujifilm, xpro3

Yang sudah akrab memotret dengan X-Pro2, kesan retro tersebut akan semakin terasa di X-Pro3. Ada emosi positif yang terbangkitkan saat memilih jenis Film Simulation di sub-monitor yang kecil, sambil mengintip di viewfinder hybrid X-Pro3.

Dengan segala kelebihannya, Fujifilm X-Pro3 amat cocok bagi fotografer yang menginginkan sebuah kamera mirrorless berdesain unik dengan hasil foto oke serta viewfinder hybrid yang nyaman digunakan.

Yang Canggih:
+ Desain ala rangefinder yang elegan dan tidak menyolok
+ Sub monitor unik untuk informasi Film Simulation & setting
+ Layar tajam dan responsif
+ Viewfinder hybrid yang terang, tajam dan responsif
+ Hasil foto baik, termasuk di kondisi minim cahaya
+ Tombol dan kenop memudahkan pengaturan setting
+ Dua slot SD card untuk menunjang fotografer profesional

Yang Kurang:
– Autofocus kadang meleset
– Grip kurang dalam bagi pengguna dengan telapak tangan besar
– Fitur video agak tanggung
– Jack mikrofon 2,5mm, butuh adapter untuk kebanyakan mikrofon eksternal
– Harga premium, terutama untuk finishing Dura yang hanya berbeda dari sisi warna

Ideal untuk:
Fotografer yang ingin lebih fokus memotret. Fotografer yang ingin merasakan sensasi memotret dengan kamera analog. Fotografer yang lebih sering memotret dibanding merekam video, serta menginginkan hasil foto baik. Street Photographer.

Kurang ideal untuk:
Fotografer yang lebih suka memotret dengan layar belakang, fotografer yang sering merekam video, fotografer yang kurang menyukai desain grip X-Pro3 yang relatif kecil.

Mengulas Fujifilm X-Pro3 tidak cukup hanya bicara soal spesifikasi teknis, tapi juga dari sisi emosi yang tentunya dikembalikan ke masing-masing pengguna. Bagi pengguna yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia fotografi, bahkan mungkin sudah akrab dengan kamera analog berbasis film seluloid, Fujifilm X-Pro3 mengembalikan sensasi serunya menggunakan kamera analog yang tidak memiliki layar tapi dengan sederetan fitur digital canggih terbaru di baliknya.Yang sudah akrab memotret dengan X-Pro2, kesan retro tersebut akan semakin terasa di X-Pro3. Ada emosi positif yang terbangkitkan saat memilih jenis Film Simulation di sub-monitor yang kecil, sambil mengintip di viewfinder hybrid X-Pro3.Dengan segala kelebihannya, Fujifilm X-Pro3 amat cocok bagi fotografer yang menginginkan sebuah kamera mirrorless berdesain unik dengan hasil foto oke serta viewfinder hybrid yang nyaman digunakan.
4.1
Kamera unik & nostalgic
Cek Harga
Baca juga
Review Fujifilm X-Pro3 22 fujifilm, Fujifilm X-Pro3, review fujifilm, xpro3
Review The Seven Deadly Sins: Game Adaptasi Manga Populer Dengan Banyak Fitur Menarik