Google resmi membuka jalan bagi toko aplikasi pihak ketiga Android untuk mengakses katalog Play Store lewat program baru bernama Play Catalog Access Program. Aturan ini mulai berlaku 22 Juli 2026, tapi baru berlaku di Amerika Serikat. Perubahan ini merupakan buntut dari penyelesaian kasus antitrust yang sudah bertahun tahun bergulir antara Google dan Epic Games.

Apa Itu Play Catalog Access Program?
Play Catalog Access Program adalah skema baru yang memungkinkan toko aplikasi pihak ketiga menampilkan daftar aplikasi dan game yang ada di katalog Google Play. Toko pihak ketiga bisa menampilkan listing tersebut di platform mereka sendiri, lengkap dengan deskripsi dan metadata yang biasanya hanya tersedia di Play Store resmi.
Yang perlu digarisbawahi, proses unduhan tetap difasilitasi lewat Google Play. Jadi kalau pengguna menekan tombol unduh di toko pihak ketiga, sistem di baliknya tetap memproses lewat infrastruktur Play Store, dan biaya layanan standar Google tetap berlaku. Dengan kata lain, ini bukan toko pihak ketiga yang benar benar independen dari Google, melainkan lebih ke perluasan jangkauan katalog Play Store ke platform lain.
Berapa Biaya dan Syarat untuk Toko Pihak Ketiga?
Toko aplikasi pihak ketiga yang ingin ikut program ini wajib membayar biaya akses tahunan sebesar 5.000 dolar AS, sekitar Rp 81 juta dengan kurs saat ini. Google menyebut biaya ini dipakai untuk menutup biaya tinjauan keamanan dan kebijakan atas toko yang mendaftar.
Selain biaya, ada empat syarat utama yang harus dipenuhi. Pertama, toko wajib punya kebijakan trust and safety yang jelas dan tidak diskriminatif. Kedua, toko harus terbuka untuk semua developer yang memenuhi syarat, bukan cuma mitra pilihan. Ketiga, distribusi aplikasi dibatasi hanya untuk wilayah Amerika Serikat, tidak boleh merambah ke negara lain. Keempat, tingkat percobaan instalasi yang terdeteksi mengandung malware harus dijaga di bawah 1 persen. Kalau angka ini terlampaui, kemungkinan besar akses toko tersebut akan dicabut.
Kenapa Google Melakukan Ini? Kaitannya dengan Kasus Epic Games
Langkah ini lahir dari putusan pengadilan dalam kasus antitrust Epic Games melawan Google yang sudah berlangsung sejak 2020. Epic, pembuat Fortnite, menggugat Google karena dianggap memonopoli distribusi aplikasi Android lewat kebijakan Play Store yang membatasi toko pihak ketiga dan mewajibkan sistem pembayaran Google untuk transaksi dalam aplikasi.
Sebagai bagian dari penyesuaian ini, Google dan Epic Games sama sama menarik kesepakatan penyelesaian (settlement) sebelumnya yang pernah disepakati kedua pihak. Play Catalog Access Program jadi salah satu bentuk konkret bagaimana Google mematuhi putusan pengadilan soal membuka ekosistem Android yang selama ini dianggap tertutup untuk kompetitor.
Apa Dampaknya untuk Pengguna Android di Amerika Serikat?
Untuk pengguna di AS, dampaknya paling terasa di sisi penemuan aplikasi (app discovery). Toko aplikasi pihak ketiga yang selama ini punya katalog terbatas kini bisa menampilkan aplikasi dan game yang sama lengkapnya dengan Play Store, tanpa developer harus mendaftarkan ulang aplikasinya secara manual ke setiap toko.
Meski begitu, ini bukan berarti harga aplikasi otomatis lebih murah atau developer bebas dari potongan Google. Karena unduhan tetap difasilitasi lewat Play Store dan biaya layanan standar tetap berjalan, pengalaman transaksinya secara teknis tidak jauh berbeda dari mengunduh langsung dari Play Store. Yang berubah adalah dari mana pengguna menemukan aplikasi tersebut, bukan bagaimana cara membayarnya.
Bagaimana dengan Pengguna Android di Indonesia?
Sampai artikel ini ditulis, Play Catalog Access Program murni program yang berlaku untuk pasar Amerika Serikat. Salah satu syarat wajib bagi toko pihak ketiga yang ikut program ini adalah tidak boleh mendistribusikan aplikasi di luar wilayah AS. Artinya, pengguna Android di Indonesia belum bisa merasakan manfaat dari program ini dalam waktu dekat.
Ini masuk akal kalau melihat konteksnya. Putusan pengadilan yang mendasari perubahan ini adalah kasus hukum yang berjalan di sistem peradilan Amerika Serikat, jadi cakupannya secara alami terbatas pada yurisdiksi tersebut. Kalau Google nantinya memperluas program serupa ke pasar lain termasuk Indonesia, biasanya butuh proses terpisah, baik lewat regulasi lokal maupun keputusan bisnis Google sendiri. Untuk sekarang, pengguna di Indonesia tetap mengandalkan Play Store dan toko aplikasi pihak ketiga yang sudah ada seperti biasa, tanpa akses ke katalog resmi Play Store lewat skema baru ini.
FAQ seputar Toko Aplikasi Pihak Ketiga di Android
Apa itu Play Catalog Access Program dari Google?
Play Catalog Access Program adalah skema yang memungkinkan toko aplikasi pihak ketiga Android menampilkan katalog aplikasi dan game dari Google Play mulai 22 Juli 2026. Proses unduhan tetap difasilitasi lewat Google Play dan biaya layanan standar Google tetap berlaku, jadi bukan distribusi yang sepenuhnya lepas dari Google.
Berapa biaya yang harus dibayar toko aplikasi pihak ketiga untuk ikut program ini?
Toko aplikasi pihak ketiga wajib membayar biaya akses tahunan sebesar 5.000 dolar AS ke Google. Biaya ini menurut Google dipakai untuk menutup proses tinjauan keamanan dan kebijakan terhadap toko yang mendaftar ke Play Catalog Access Program.
Apakah program ini berlaku untuk pengguna Android di Indonesia?
Belum. Play Catalog Access Program saat ini eksplisit hanya berlaku untuk Amerika Serikat, dan salah satu syarat wajibnya adalah toko pihak ketiga tidak boleh mendistribusikan aplikasi di luar wilayah AS. Pengguna Android di Indonesia belum bisa mengakses katalog Play Store lewat toko aplikasi pihak ketiga melalui skema ini.
Kenapa Google membuka akses katalog Play Store ke toko pihak ketiga?
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari putusan pengadilan dalam kasus antitrust Epic Games melawan Google yang berjalan sejak 2020. Sebagai bagian dari penyesuaian ini, Google dan Epic Games sama sama menarik kesepakatan penyelesaian Play Store yang sebelumnya pernah disepakati kedua pihak.
Apa syarat yang harus dipenuhi toko aplikasi pihak ketiga Android untuk ikut program ini?
Toko wajib punya kebijakan trust and safety yang jelas dan tidak diskriminatif, terbuka untuk semua developer yang memenuhi syarat, hanya mendistribusikan aplikasi di wilayah Amerika Serikat, serta menjaga tingkat percobaan instalasi bermuatan malware di bawah 1 persen dari total aktivitas di platform mereka.





