Quantcast

Review: ZTE Light Tab V9+

Gemar ke Bioskop untuk menonton film? Jika Anda memiliki perhatian lebih terhadap sistem tata suara yang digunakan, mungkin nama “Dolby” tak lagi asing untuk Anda. Nah, ZTE, vendor asal China, memiliki lini komputer tablet yang sudah bersertifikasi Dolby dan merupakan yang pertama di dunia untuk kelas tablet. Oke, ini menarik, namun apa lagi sisi “plus” yang bisa Anda dapatkan dibanding pendahulunya? Mengingat seri Light Tab sebelumnya pun sudah membawa fitur Dolby ini. Sebagai catatan, ZTE juga memiliki Light Tab EVDO yang berjalan di jaringan CDMA dengan layar kapasitif namun memiliki spesifikasi di bawah seri V9+ ini.

[tab:Desain]

ZTE Light Tab V9 saat itu tampil dengan sangat sederhana – bahkan tergolong biasa saja. Kesederhanaan itu masih dipertahankan di V9+ dengan hanya menambahkan logo “ZTE” di bagian belakang. Selebihnya hampir tak ada perbedaan mencolok dibanding tablet ZTE terdahulu.

Mari kita telusuri selebihnya. Di sisi atas ZTE menempatkan jack audio 3.5mm yang ditemani speaker berkualitas Dolby. Total 2 speaker terdapat di tubuh V9+, satu lagi terletak di sisi bawah bersama port microUSB. Bisa ditebak, 2 speaker di sisi kiri-kanan (dalam posisi landscape) tentu dimaksudkan untuk memberi efek stereo (atau bahkan surround) ketika Anda sedang memainkan file multimedia. Pada gambar di atas, terlihat juga sensor cahaya dan kamera depan yang dimiliki oleh V9+, meski resolusinya masih CIF.

Tombol power terletak di sisi kanan, bersisian dengan tombol volume. Sedangkan di sisi kirinya polos tanpa ada pernak-pernik tombol apapun.

Tiga tombol sensitif sentuh ada di bawah layar 7 incinya yang berorientasi potrait, yakni tombol Beranda atau Home, Menu Pilihan di tengah serta tombol Kembali di sebelah kanan. Ketiga tombol ini memberikan balasan berupa getaran singkat ketika disentuh, serta memiliki respons yang cepat. Yang menarik, lampu indikator V9+ hampir tidak terdeteksi jika tidak menyala. Letaknya hanya bergeser sedikit saja ke kanan bawah dari tombol kembali. Cara paling mudah untuk menemukannya adalah: dengan mengisi baterai tablet.

Sedikit ke bawah, terdapat lubang mikrofon untuk keperluan telepon dan rekam suara, serta semacam celah untuk mengangkat casing belakang tablet. Di baliknya, kita akan menemukan slot kartu SIM berdampingan dengan slot microSD. Untuk mengakses kedua slot tersebut Anda perlu melepas terlebih dahulu baterai yang berbentuk panjang itu. Artinya, microSD tidak bersifat hot-swap.

[tab:Antarmuka & OS]

Meski tidak menggunakan Honeycomb, penggunaan Gingerbread yang lebih stabil sudah cukup untuk membantu kinerja V9+ menjadi lebih baik dibandingkan pendahulunya. Halaman Beranda sudah tampil cukup menarik, dengan menu akses virtual ke fungsi telepon, Menu Utama dan Peramban. Ketiga akses cepat ini tetap hadir meski saya memasang launcher Ice Cream Sandwich yang diunduh via Android Market. Sementara itu, tampilan menu utama dan sub menunya masih tergolong standar.

Fungsi telefoni yang dibawa V9+ ditunjang dengan tombol-tombol virtual besar dan display nomor yang jelas. Selain itu, Anda juga dapat mengakses Call log, Kontak, Favorit dan Grup dengan cepat lewat pintasan yang terdapa di sisi atas. Menambah kontak baru? Tinggal masukkan nomor lalu sentuh ikon di sebelah kiri bawah, maka Anda akan langsung dibawa ke halaman tambah kontak. Praktis bukan?

Sekarang beralih ke keyboard virtual. Ditunjang dengan layar kapasitif serta prosesor 1GHz, proses input karakter berlangsung dengan cepat bahkan untuk ukuran jari besar sekalipun. Layar 7 incinya dioptimalkan ZTE dengan baik untuk mengakomodir pengetikan cepat dalam 2 format, lanskap maupun portrait. Dalam format portrait, saya akan menggunakan kedua ibu jari saya sedangkan dalam format lanskap, saya akan menaruh tablet di atas telapak tangan kiri seraya menarikan jemari kanan di atas layarnya.

Gingerbread membawa kemampuan yang cukup berguna dalam menghemat ruang penyimpanan internal tablet, yakni kemampuannya untuk memindahkan aplikasi ke microSD (move to SD). Meski perlu diingat tidak semua aplikasi bisa dipindahkan ke kartu memori, namun Anda bisa mengeceknya dengan masuk ke manajemen aplikasi dan pilih aplikasi mana yang ingin dipindahkan. Jika bisa, maka tombol untuk itu akan menyala.

[tab:Benchmark & Memori]

Layar 7 inci V9+ dapat membaca (dan merespons) hingga total 5 sentuhan dalam waktu yang bersamaan. Ini sudah lebih dari cukup untuk bermain maupun berbagai aktivitas lain yang melibatkan layar sentuhnya. Sedangkan benchmark menggunakan Quadrant diperoleh hasil 2290, berkat prosesor 1GHz MSM8255 dan RAM 512MB yang ditanamkan di dalam V9+.

Beralih ke memori, ZTE telah memberikan ruang cukup lapang (jika dibandingkan kakak-kakaknya) yakni sebesar 8GB untuk ROM serta slot microSD yang mampu membaca hingga kapasitas 32GB. Hasil benchmark menunjukkan kecepatan membacanya jauh lebih cepat dibanding menulis data ke microSD tersebut, yakni 14.4MB/s berbanding 6.7MB/s. Jika ingin lebih cepat, gunakan microSD dengan kelas tinggi.

Soal daya tahan baterai, pemakaian cukup intens menghasilkan daya tahan sekitar 5 jam hingga daya baterai benar-benar habis, seperti untuk bermain dan browsing menggunakan WiFi. Jika lebih jarang, V9+ mampu bertahan hingga sekitar 12 jam atau setengah harian. Untuk menghematnya, atur kecerahan layar dan nonaktifkan berbagai fitur yang sudah tidak digunakan. Bisa juga dengan memaksimalkan earphone ketimbang speaker eksternal.

[tab:Multimedia]

Inilah yang kita bahas dari awal, sistem suara Dolby Surround. Fitur ini dapat kita aktifkan atau tidak, dan memang memengaruhi keluaran suara. Akan lebih terasa jika menggunakan earphone, yakni suara lebih membulat dan dalam kondisi tertentu, efek surround akan terasa seperti mengelilingi kepala Anda. Anda akan menemukan tombol Dolby, baik dalam player lagu maupun video seperti kedua gambar di atas dan bawah.

Masuk ke kamera, sarana yang satu ini tak mengalami peningkatan berarti dari versi pendahulunya. Meski begitu, Anda jangan terkecoh dengan hasil yang nampak pada layar tablet. Ketika saya memindahkan hasil foto di luar ruang ke komputer, gambar nampak lumayan tajam dengan saturasi warna yang cukup baik pula, apalagi jika bukan memotret benda bergerak. Sayangnya ZTE masih juga mengabsenkan lampu kilat yang setidaknya bisa membantu penerangan di ruangan temaram, sehingga hasilnya agak pecah.

Meski begitu, fasilitas foto dan rekam videonya cukup lengkap dengan berbagai pilihan ISO, resolusi, kualitas, efek, termasuk pilihan kamera mana yang akan digunakan (depan/belakang). Video yang dihasilkan dalam format 3gp akan terasa patah-patah karena frame rate=nya yang rendah, sedangkan di sektor audio meski belum terbilang jernih karena mikrofonnya hanya satu (dan berukuran kecil pula), namun suara geledek pada video di bawah dapat tertangkap lumayan baik.

Galeri

indoor

outdoor

video

[tab: Kesimpulan & Spesifikasi]

Beli, jika Anda mencari tablet 7 inci dengan fungsi telepon, performa baik dan bersertifikat Dolby untuk keluaran suara serasa di bioskop. Tahan, jika Anda membutuhkan tablet lebih dari sekedar perangkat hiburan dan kerja, namun juga menginginkan aspek penunjang gaya. Yang pasti kehadiran V9+ sudah lumayan untuk mengisi celah pada market untuk segmen tablet di bawah 3 juta, dan tidak sekedar hadir.

Pros
(+) Dolby Surround
(+) Performa kinerja baik
(+) Kamera 3.2MP, hasil lumayan
(+) Fungsi telepon
(+) Memori 8GB
(+) Cukup tipis dan ringan

Cons:
(-) Desain terlalu sederhana
(-) Hasil video laggy, hanya 3gp

Rival
Huawei IDEOS S7 Slim

Spesifikasi
Harga Rp 2,7 jutaan
Dimensi 190x110x12.6 mm
Bobot 403g
Prosesor 1GHz MSM8255
Data HSDPA 7.2Mbps/HSUPA 5.76 Mbps
Sistem Operasi Android 2.3 Gingerbread
Memori 512MB (RAM) 8GB (ROM), microSD hingga 32GB
Layar 7 inci TFT 1024×600 piksel
Kamera 0.3MP (depan) 3.2MP (belakang)
Baterai Li-ion 3400 mAh
Bluetooth 2.1 A2DP 1.2
Dolby Surround Sound

Komentar

comments

No more articles
%d bloggers like this: